CERPEN
PAGUYUBAN
LALI JIWO
(Budayaku
Pindah
Tangan, Masih Diamkah!)
*Oleh
Indra Nurdianto
Di
negeri Merah Putih tepatnya di
gedung hijau, sekelompok kaum pemuda yang mengatasnamakan
dirinya pembela wong cilik
berbondong-bondong mendatanginya.
Kedatangan mereka pada pagi buta itu tak lain hanya
meminta ketegasan pemerintah yang terkesan dingin menanggapi permasalahan
besar. Mereka beraksi
dengan membawa pengeras suara dan beragam bentuk spanduk
yang salah satunya bertuliskan slogan dengan nada sentilan
“Budayaku Pindah Tangan, Masih Diamkah!”.
Berbagai spanduk, poster, dan gambar karikatur pun seketika terpampang jelas
memenuhi pelataran gedung mewah itu.
Mereka
berteriak-teriak brutal menuntut ketegasan dan keadilan pemerintah tentang pindah
tangannya satu persatu budaya bangsa. Nyanyian dan yel-yel
bernada protes pun
tak henti-hentinya mereka layangkan. Sekian lama mereka menunggu sampai terik menyengat
kulit dan serak mencekik tenggorokan baru ada perwakilan pejabat pemerintahan yang
mau menemui mereka. Wajar saja, sorak-sorai
dan riuh suara cercaan bergemuruh menyambut kedatangan pejabat tersebut.
Sungguh mencekam suasana pada hari itu.
***
Angin
berhembus lirih mencipta suasana dingin pada indera perasa.
Di sepanjang jalan dekat warung bu Denok,
tampak pemandangan yang tak jauh berbeda seperti
hari-hari biasanya. Berduyun-duyun anak kecil beraut wajah berseri dengan memakai seragam berwarna
putih merah silih berganti berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Senyum kecil canda tawa keakraban terdengar sesekali dan menjadi pemandangan
yang belum tergores oleh apapun
dari pedesaan pada pagi hari itu. Sungguh kelak membuat kangen bagi siapa saja yang
melihat dan merasakan.
Tak ubahnya pemandangan di warung bu
Denok sendiri. Anggota paguyuban lali jiwo (Petruk, Semar, Bagong, dan
Gareng) yang sedari tadi juga sudah memulai aktivitas rutinnya, ngobrol ringan ngalor-ngidul tanpo jedul. Tak lupa kopi
hitam pekat hangat
dan udud favorit semua
orang yang berlabel angka itu juga menjadi
sesajen wajib saat mereka mengobrol. Sampai-sampai bu Denok sering menyebut kekeluargaan
mereka sebagai paguyuban lali jiwo. Meskipun kekeluargaan
diantara mereka sangat kental, tapi bu Denok memberi embel-embel lali jiwo
(lupa diri) pada paguyuban mereka karena saking sukanya menyeduh kopi di warung tanpa bayar diawal
alias ngutang. Hidup yang indah bagi mereka, tapi tak untuk hidup bu Denok.
Suara
serak surau Semar membuka obrolan paguyuban
lali jiwo pagi itu. “Truk, Gong, Reng, kawan ngopiku yang ganteng semua kayak bintang film,
tadi malam pada lihat
berita di televisi nggak??” sambil menyeruput kopi hitam yang baunya menyeruak harum khas
salah satu daerah di Jawa Timur.
Seketika suara tawa terbahak-bahak keluar dari mulut ketiga anggota paguyuban lali jiwo itu sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan Si Semar. Perasaan
bingung akan maksud tertawa kawan-kawannya
itu, membuat Semar menggeleng-gelengkan kepala, “Hidup ini sungguh aneh.”
Diseruputnya lagi
kopi yang ada digenggaman tanganya, Semar pun meneruskan ucapannya. “Ditanya
malah ngakak
semua, dasar orang lali jiwo!” .
“Memangnya ada
berita apa mas Semar?” Sahut Bagong dengan ringan.
“Ada kopi dan makanannya nggak?” Celetuk Petruk tanpa merasa dosa sedikitpun.
“Kopi dan makananya minta lagi sana ke bu Denok Truk, hehehehehe” Timpal Gareng dengan santai.
“Sudah, sudah, sudah kalau begitu, aku
beritahu saja. Tadi malam ada berita menarik, supaya kawanku semua
nggak tertawa melulu, aku akan
beritahu.”
Semar pun memulai bercerita.
***
“Mari!
Sebelum menyimak ceritaku ini nanti, seruput dulu kopi hitamnya selagi masih
hangat, supaya nggak pada panik semua saat
mendengarkannya, heuheuheu.” Sambil menyodorkan kopi ke kawan-kawanya.
“Begini,
tadi malam saat aku nonton berita di
televisi, disiarkan ada demo besar-besaran di ibu kota tepatnya di Gedung Hijau, yang katanya sih
gedung penampung aspirasi rakyat
gitu. Beritanya seputar kekecewaan masyarakat yang
mengatasnamakan pembela wong cilik di negeri Merah Putih yang budayanya
(reog, tari, lagu daerah, dan lain-lain) sudah pindah tangan. Pemerintahnya hanya diam saja, tak ada tindakan
sekalipun, makanya mereka pada berduyun-duyun demo.”
“Wah! ada-ada saja, budaya kok mengeklaim milik orang lain,
mau dibawa kemana sebuah negara kalau budaya saja hasil dari pengeklaiman, sungguh nggak kreatif dan sungguh kurang
inovatif.” Bagong memotong cerita.
“Ini mau dilanjutkan atau nggak ceritannya,” gerutu Semar.
“Laannjjuuttttttt….Laannjjuutttt.....Maasss Semmaarr..!!!!!,” serentak Bagong, Petruk, dan Gareng.
“Maannttaabbb
maannyyosss, seruput lagi kopinya. Heuheuheuheu.’’
Dilanjutkannya
cerita Semar yang sempat terhenti oleh gurauan khas mereka. Cerita yang
nantinya akan menguras emosi diantara mereka. Mungkin juga akan membuat mereka
ikut berpartisipasi atau justru bergabung dengan pembela wong cilik
dikemudian hari. Entah benar atau tidak, hanya waktulah yang akan menjawab
semua.
Semar dengan nada
cerita bak pendongeng berujar lagi, “Para pembela wong cilik
tadi dengan suara lantang memprotes pemerintah yang terkesan diam
seribu bahasa. Gemuruh cercaan semakin menjadi-jadi tatkala
tak ada satupun pejabat pemerintahan yang mau menemui mereka untuk sekedar konfirmasi
ataupun klarifikasi. Demo pun
semakin
memanas, saat mereka beramai-ramai
memblokir jalan menuju gedung
hijau dengan membakar ban bekas sebelum mereka bertemu langsung dengan perwakilan
pejabat pemerintah itu. Arus
lalu –lintas pun dibuat mati alias padat merayap.”
“Situasi
sedikit mereda setelah perwakilan dari pejabat
pemerintahan mau menemui mereka. Tak lama setelah mendapat desakan dari Mas Narto salah satu
penggerak pembela wong cilik, pemerintah berjanji akan menindak tegas
negara yang sudah mengeklaim banyak budaya negara merah putih. Usut punya usut negara
pengeklaim itu berinisial “MLS”.
Selanjutnya, pemerintah juga
akan mengirimkan surat protes atau peringatan
kepada negara tetangga tersebut agar tidak asal mengklaim budaya milik negara
lain. Singkat cerita, jawaban
dari pemerintah tersebut mengantarkan para pembela wong cilik
bubar meninggalkan segala kebrutalannya
di gedung hijau tersebut. Perasaan para pembela wong cilik sedikit
terobati atas jawaban dari pejabat pemerintahan tersebut. Mereka pun kembali pulang
dengan tetap memegang dan mengantongi janji yang
sudah dilontarkan.”
“Bagaimana pendapat
kawan-kawan menanggapi
berita tersebut? Jangan diam saja
lah!” pancing Semar dalam lanjutan pembicaraannya lagi.
“Bagus Mas Semar!!”
sahut Petruk dan Bagong, sedangkan
Gareng menatap kosong wajah Semar.
“Kok
bagus gimana sih kawan-kawan ini. Mau ikut demo kayak gitu nggak karena cukup
membikin emosi juga loh,
heuheuheuheuheuheu.”
“Memang
budaya sendiri sebaiknya dijaga dan dilestarikan supaya tidak diakui oleh
negara lain, kalau sudah terjadi hal seperti itu siapa yang susah kalau tidak bangsa itu sendiri,” Bagong
menutup cerita Semar.
“Betul
Gong!” serempak Petruk dan Gareng yang kali ini terlihat
kompak.
***
Sinar-sinar
kemurahan Sang Pencipta mengiringi setiap pendo’a di waktu dhuha. Warung bu Denok pun mulai ramai
dikunjungi oleh para pelanggannya
yang tidak hanya Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng.
Seketika Paguyuban lali jiwo yang
masih asyik bercengkrama dengan seduhan kopi hitam dikejutkan oleh
sentilan bu Denok dari arah tempat duduk jualannya.
“Kopi dan makanannya mau dibayar kapan?” Lagi-lagi
pertanyaan pamungkas yang terlontar dari bibir Bu Denok, yang berhasil membubarkan
obrolan paguyuban lali jiwo pagi
itu. Sembari mereka membubarkan diri, Semar memimpin melagukan
syair paguyuban lali jiwo. (idr)
Paguyuban
Lali Jiwo
Bertemu dalam
syahdunya irama persaudaraan
Bercengkrama
mengupas permasalahan
Ringan bukan
meringangkan
Berat bukan
memberatkan
Inilah
kami, dalam satu rangkaian arti
Berjalan
tak saling mendahului
Sejajar
tak ada yang lebih tinggi
Begitulah
riwayat abadi
Ea eo ea eo
ea eo
Ea eo ea eo
ea eo
Paguyuban
lali jiwo
****
Malang, 19 Juni 2016
*Penulis adalah pendidik di MA Almaarif Singosari

Komentar
Posting Komentar